Pep Guardiola : Layakkah Disebut Pelatih Terbaik Di Dunia?

Josep Guardiola terkejut

Pep Guardiola sering dikritik karena hanya  pernah menukangi klub-klub besar. Ini cukup lucu menurut saya. Coba saja kamu bayangkan Lionel Messi bermain untuk Stoke City atau tim papan tengah lain di dunia.

Hal yang sama kita aplikasikan pada Guardiola. Ia merupakan mantan kapten Barcelona yang lulus dari akademi klub yang lanjut melatih tim Barcelona B dan sukses mengantarkan Barcelona meraih treble winners di musim pertama 2008/2009 ia menukangi klub utama.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa Guardiola harus melatih tim medioker terlebih dahulu sebelum layak disebut pelatih terbaik di dunia. Sama seperti Messi yang merupakan seorang pemain top, hanya layak bermain di tim terbaik.

Guardiola adalah pelatih terbaik maka layak jika ia sekarang melatih Manchester City dengan segala kemampuan finansial dan atribut pendukungnya. Argumen yang menyatakan kesuksesan Guardiola karena ia hanya menukangi klub besar, tidak cukup solid.

Ada banyak kasus seperti David Moyes yang menjadi pelatih Manchester United menggantikan Sir Alex Ferguson, tetap tidak mampu mempersembahkan trofi bagi klub. Jika kita berbicara perihal raihan trofi pun, Guardiola sudah berhasil menang banyak selama di Barcelona 14 trofi, Bayern Munchen 7 trofi, dan Manchester City 7 trofi.

Namun faktor penentu kesuksesan sebuah tim tidak hanya bergantung dari raihan trofi. Bagaimana seorang pelatih mampu mengarahkan tim dalam semua aspek, dari performa sampai hasil akhir. Merupakan basis bagaimana kita bisa menilai keberhasilan seorang pelatih kepala. Berikut kelebihan Guardiola dibandingkan pelatih lain di dunia.

Ahli taktis

Setelah berhasil melatih tim Barcelona B dengan strategi total football, Guardiola menerapkan taktik yang sama di tim utama Barcelona. Formasi yang digunakan berubah dari 4-3-3 menjadi 4-1-2-3 dengan mengutamakan dominasi penguasaan bola dalam 90 menit.

Ada kelebihan utama yang diperagakan Pep Guardiola selama melatih Barcelona di musim pertamanya. Yaitu memperkenalkan perebutan bola yang agresif dari depan di mana membutuhkan stamina yang sangat tinggi secara keseluruhan dari setiap pemain. Walaupun begitu hal ini bisa terwujud dengan model persiapan tinggi yang diperagakan anak-anak asuh Guardiola di Barcelona.

Karakter keras

Walaupun begitu, tidak mudah mengendalikan pemain-pemain bintang bagi seorang pelatih kelas dunia sekali pun. Guardiola terkenal pernah berseteru dengan Messi, Eto’o, Ibrahimovic sampai Yaya Toure selama menjabat sebagai pelatih Barcelona.

Karakter kepemimpinan seperti ini sangat dibutuhkan untuk memastikan setiap pemain diperlakukan sama dan membuat pemain bintang lebih disiplin dan pemain-pemain lainnya menjadi lebih termotivasi untuk sukses karena merasa lebih dihargai. Yang berpotensi untuk menggantikan posisi pemain bintang di kemudian hari.

Faktor pengalaman sebagai kapten tim Barcelona menjadi andil untuk melatih determinasi, kepemimpinan, dan motivator bagi pemain di lapangan. Karakter ini mirip dengan kedisiplinan Roberto Mancini dalam menindak pemain tidak disiplin seperti kasus Balotelli sampai Carlos Tevez.

Penggunaan pemain muda

Saat pindah menjabat sebagai pelatih kepala Barcelona, Pep membawa serta dua pemain kunci mulai dari Pedro sampai Busquets. Kedua pemain yang masih berusia belia ini ditempa dan berhasil memberikan andil bahkan sampai gelar juara Piala Dunia 2010 bagi Spanyol di Afrika Selatan.

Raheem Sterling sudah mencetak empat gol dalam dua pertandingan Liga Premier Inggris terakhir. Ini bisa menjadi bukti bahwa pemain muda di bawah asuhan Pep Guardiola besar kemungkinan untuk sukses seperti banyak pemain muda lainnya di Barcelona, Bayern Munchen sampai Manchester City.