Moneyball Dalam Sepak bola : Kisah Sukses Porto FC Dan Tottenham Hotspur

Gambar Fernando Torres latihan

Dalam dunia sepak bola, banyak klub yang berhasil menerapkan strategi Moneyball, di mana ada beberapa klub yang sangat efisien dalam menerapkan cara ini. Secara singkat, klub akan menjual pemain bintang mereka untuk nilai transfer di atas nilai pemain sebenarnya. Dan sebagai gantinya, mencari pemain muda yang memiliki potensi yang sama untuk dibina mengisi posisi yang ditinggalkan.

Ada kelebihan secara ekonomi pastinya dengan penerapan sistem ini. Apalagi dengan semakin maraknya nilai transfer yang begitu tinggi, terakhir €222 juta adalah rekor transfer yang dibukukan Neymar Jr. Kepindahan dari Barcelona FC ke PSG pada tahun 2017 yang lalu.

Awal mula peningkatan nilai transfer yang signifikan ini ada pada tahun 2001 saat Zinedine Zidane pindah dari Juventus ke Real Madrid dengan nilai transfer mencapai €77,5 juta. Nilai ini menjadi rekor yang bertahan selama 8 tahun sampai C. Ronaldo ditebus dari Manchester United senilai €94 juta pada 2009.

Klub-klub besar yang membutuhkan pengganti saat itu juga akan kesulitan untuk menerapkan sistem Moneyball. Kadang kala dengan tingginya nilai transfer yang melewati valuasi sebenarnya tersebut, tidak dapat dimanfaatkan klub asal dengan mencari pengganti yang tidak sesuai.

Kasus transfer gagal

Sebut saja saat kepindahan Fernando Torres dari Livepool ke Chelsea. Pemain pengganti Torres waktu itu yang dipilih oleh Kenny Dalglish adalah Andy Carrol dengan biaya transfer £35 juta. Padahal profit yang didapat dari kepindahan Torres sebesar £50 juta. Nilai transfer terbesar saat itu di Liga Premier Inggris.

Kedua striker ini pada akhirnya tidak mampu membayar nilai transfer yang dibayarkan dalam gol dan performa. Sejatinya, klub mampu menentukan kapasitas pemain dengan lebih sempurna. Sehingga dana transfer tidak terbuang percuma.

Apa itu Moneyball

Istilah Moneyball populer dengan semakin tingginya harga transfer pemain. Ada banyak klub papan tengah yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengganti pemain bintang mereka yang pindah dengan pemain muda berpotensial yang diharapkan mampu mencapai puncak permainan yang bahkan lebih baik dibanding pemain yang pindah sebelumnya.

Sebut saja kepindahan Gareth Bale ke Real Madrid pada 2013 senilai £85 juta (€100 juta). Sebagai mantan Scout veteran, André Villas-Boas menggunakan dana tersebut untuk membeli sederet pemain muda bertalenta. Nama-nama seperti Erik Lamela (22 tahun) dan Christian Eriksen (21 tahun) ditebus dengan jumlah transfer €43,5 juta. Ada selisih sebesar €56,5 juta sebagai keuntungan klub, dan Tottenham bebas menggunakan dana ini untuk keperluan transfer lain dan investasi peningkatan fasilitas latihan serta akademi klub.

Bisa kita lihat sekarang efek Moneyball saat Villas-Boas melakukan keputusan transfer pemain muda menggantikan Bale. Walaupun Erik Lamela ataupun Christian Eriksen tidak sepenuhnya mampu memberikan andil yang sama seperti Gareth Bale, mereka mampu menunjukkan konsistensi dan pilihan terbaik yang ada di pasar saat itu. Dan kini, nilai valuasi transfer keduanya bisa dibilang ada di atas €118juta (€18 juta Erik Lamela dan €100 juta Christian Eriksen menurut Transfermarkt).

Tim yang mengadaptasi moneyball

Porto FC juga sukses mengadaptasi prinsip moneyball dalam filosofi transfer mereka. Dalam satu dekade terakhir mereka melakukan scouting pemain secara menyeluruh terutama pada pemain berusia muda dari Amerika Latin. Sebut saja nama seperti Falcao, Hulk, Anderson sampai Thiago Silva.

Mereka mengembangkan para pemain tersebut untuk kemudian dijual kembali saat menyentuh usia emas, di mana harga semakin tinggi ke liga-liga utama Eropa.

Hebatnya, Porto mampu mengombinasikan pengembangan pemain dan raihan titel setiap musim. Pentingnya scouting, dalam menentukan nilai valuasi transfer pemain dan mengembangkan mereka untuk dijual kembali ke tim-tim yang membutuhkan pemain segar di klub-klub berdana besar seperti Manchester City, Real Madrid, Barcelona, Chelsea, Liverpool, Manchester United, dan lain-lain.