Mengapa Rossi Bukan Lagi Bagian Dari Masa Depan Yamaha

Valentino Rossi sudah menjadi bintang dari MotoGP selama satu generasi dan tahun ini ia sudah genap berusia 40 tahun. Namun Yamaha terlihat enggan memperpanjang kontraknya walaupun Rossi mengisyaratkan untuk tetap bermain musim depan.

Walaupun begitu, tahun 2019 ini performanya tidak bisa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam wawancara kali ini, bos tim Yamaha, Lin Jarvis menjelaskan mengapa Yamaha sudah berniat untuk tidak lagi menggunakan jasa Rossi dalam tim.

Saat tampil di Sachsenring, 7 Juli 2019 lalu, Rossi menyelesaikan setengah musim pertamanya dengan rekor terburuk sepanjang kariernya di MotoGP.

Memang di usianya yang 40 tahun, adalah masa-masa atlet papan atas untuk pensiun karena selain kondisi fisik menurun drastis terutama kemampuan konsentrasi yang sangat penting dalam dunia balap. Hal ini menyangsikan perpanjangan kontrak Rossi yang akan habis pada 2020.

Lin Jarvis menjelaskan beberapa hal terkait lomba musim ini dan kontrak Rossi yang akan habis tahun depan.

Perbaikan performa Yamaha

Kompetitor Yamaha musim ini adalah Ducati dan Honda. Dengan jarak performa yang cukup besar. Misi di musim ini setelah pergantian pimpinan proyek dari Kouiji Tsuya menjadi Takahiro Sumi, kemudian kedatangan GM baru Hiroshi Itou, pastinya menjadi angin segar di belakang layar tim Yamaha musim ini.

Kemudian dengan adanya kolaborasi yang lebih intim antara tim teknis Yamaha berbasis di Eropa dan di Jepang dalam hal pemecahan masalah, pastinya mampu menghasilkan motor Yamaha yang lebih prima ke depannya. Saat ini Yamaha memiliki kekurangan daya pada mesin, dan ini baru bisa terselesaikan lewat rancangan mesin baru di musim depan.

Namun apa yang membuat pabrikan Jepang ini memutuskan untuk mendesain baru pada mesin? Seperti yang dijelaskan oleh Lin Jarvis, MotoGP sangat penting bagi Yamaha. Sebagai bagian promosi secara global dengan segala kompetisinya di dunia pemasaran, untuk kalah di ajang bergengsi ini pastinya tidak diharapkan.

Karena itu untuk mencapai performa tinggi sehingga dapat bersaing bersama manufaktur top lainnya, peningkatan dana operasional dan riset sudah dilakukan.

Amunisi baru Fabio Quartararo

Terlebih dengan didatangkannya Fabio Quartararo, sebagai pembalap Petronas Yamaha SRT, potensi yang ditonjolkan sangat cemerlang. Pembalap asal Prancis tersebut baru berumur 20 tahun sejak April lalu, mampu menunjukkan konsistensi yang lebih matang ketimbang kompatriotnya yang lebih senior, Valentino Rossi, pada musim ini.

Walaupun secara klasemen, Quartararo tertinggal 13 angka di belakang Rossi dengan 67 poin dan belum pernah juara sama sekali.

Tetap saja, perolehan angka kedua pembalap Yamaha tersebut, masih tetap kalah jika dibandingkan dengan Marc Marquez dari Honda yang telah berhasil mengumpulkan 185 poin. Jauh melampaui posisi kedua Andrea Dovizioso dari Ducati dengan 127 poin.

Pengganti Rossi

Menurut bos Yamaha ini, potensi dari Quartararo cukup tinggi karena faktor kombinasi keberanian dan konsistensi seperti yang selama ini tampak dari pembalap Yamaha ini. Selama ini pun ia baru dua kali jatuh dari motor di ajang MotoGP, sebenarnya cukup luar biasa statistik ini jika kita telisik lebih jauh. Marc Marquez salah satu orang yang berani dalam balap, namun ia lebih sering terjatuh, bahkan cukup sering dalam MotoGP. Konsistensi untuk tidak membuat kesalahan adalah salah satu kelebihan utama dari pengendara muda pabrikan Petronas Yamaha SRT ini.

Jadi, masa depannya bisa sangat cerah, dan harapannya bersama Yamaha pun, ia bisa terus menorehkan prestasi dan menjadi alternatif bagi Valentino Rossi dan Maverick Vinales.