Hugo Lloris Ragu Akan Potensi Juara Spurs di Liga

Hugo Lloris secara terbuka menyadari bahwa ada jarak kualitas yang signifikan antara Tottenham Hotspurs saat ini dan dua tim teratas musim lalu. Liverpool dan Manchester City sama-sama on fire di posisi teratas klasemen sementara layaknya musim lalu. Tottenham masih belum mampu untuk mendekati mereka sampai saat ini.

Walaupun berhasil menang melawan Aston Villa di laga pembuka. Sampai saat ini Tottenham Hotspur belum mampu untuk kembali meraih kemenangan. Dua hasil seri melawan tim besar Manchester City dan Arsenal bukanlah hasil yang buruk. Namun kekalahan 1-0 atas Newcastle United di kandang sendiri, benar-benar mencoreng muka Mauricio Pochettino dan para pemain Spurs.

Liverpool dan Manchester City

Di lain pihak, Liverpool berhasil menang bersih semua laga yang dipertandingkan untuk mengukuhkan posisi puncak klasemen sementara Liga Premier Inggris musim 2019/2020. Sedangkan Manchester City juga belum terkalahkan, walaupun berhasil diimbangi Spurs dengan skor 2-2 di Stadion Etihad.

Di musim lalu pun, Manchester City baru kehilangan poin setelah berlaga dalam 6 pertandingan, sedangkan Liverpool mampu menyapu bersih 7 pertandingan awal musim 2018/2019. Di sinilah Lloris meragukan konsistensi yang diperagakan timnya dibandingkan dua tim besar Liverpool dan City.

Baik Liverpool maupun Man City memiliki pengalaman dari para pemain ataupun manajemennya. Kombinasi ini menghasilkan konsistensi yang luar biasa di setiap pekannya untuk secara profesional mempersiapkan pertandingan dengan disiplin.

Masalah konsistensi

Nilai ini sulit untuk didapatkan tim yang baru naik daun seperti Tottenham Hotspur. Memang mereka memiliki banyak pemain bertalenta yang sedang berada di puncak permainan mereka. Namun hal ini tidak diimbangi dengan pemain yang sudah memiliki pengalaman konsistensi di tingkat tertinggi dan haus akan gelar untuk memotivasi dan menjadi contoh pemain-pemain muda Spurs lainnya.

Apa yang perlu dipikirkan Spurs saat ini bukanlah tentang gelar juara sebenarnya. Namun lebih kepada setiap pertandingan yang akan mereka lalui, dan fokus tentang itu. Jika terlalu banyak berpikir tentang gelar, tim bisa menjadi terlalu percaya diri. Hal ini berakibat pada sempurnanya persiapan pemain sebelum pertandingan baik itu secara taktis maupun fisik.

Lebih jauh, saat kalah dari Newcastle United di kandang, bisa menghancurkan rasa percaya diri yang tinggi tadi dan langsung jatuh menghasilkan performa pemain yang angin-anginan. Karena itulah metode untuk hanya fokus berpikir pada satu pertandingan ke depan adalah yang terbaik.

Baru nanti saat kompetisi sudah mencapai akhir Desember, atau Maret saat perburuan gelar juara semakin panas, Spurs bisa menargetkan posisi yang sesuai dengan poin yang sudah diraih.

Sampai saat ini poin yang sudah diraih Tottenham masih kalah dibandingkan dua pesaingnya di posisi teratas. Walaupun mereka bisa meraih hasil yang cukup baik dengan seri melawan  Arsenal maupun City.

Manajer Spurs sendiri, Mauricio Pochettino tidak menyangkal bahwa setelah kekalahan melawan Newcastle, saat itu adalah momen paling menyedihkan di ruang ganti tim sejak ia menukangi klub tersebut dari tahun 2014.

Memang ada sedikit pengaruh dari potensi keluarnya Christian Eriksen, Toby Alderweireld dan Jan Vertonghen. Namun sejak jendela bursa transfer sudah ditutup, seharusnya para pemain bisa lebih fokus untuk menghadapi setiap pertandingan dengan seluruh kemampuan yang mereka miliki. Paling tidak sampai bursa Januari tahun depan dibuka.