Hitung Mundur Satu Tahun Persiapan Olimpiade Tokyo 2020

Tahun terakhir Tokyo menyelenggarakan Olimpiade adalah pada tahun 1964. Namun persiapannya tidak main-main, mulai dari stadion, medali, sampai robot yang siap diprogram untuk pengunjung stadion. Seperti apa lengkapnya?

Tepat pada 24 Juli tahun depan, kita akan menyaksikan bersama acara Opening Ceremony dari Olimpiade Musim Panas 2020 yang diselenggarakan di Tokyo. Sebagai kota besar dengan segala pencapaiannya, pastinya ekspektasi publik banyak tersita dengan budaya dan teknologi yang siap untuk memanjakan turis, terutama dari Indonesia.

Setiap stadion yang digunakan dalam Olimpiade nanti harus sudah selesai beberapa bulan lagi dan panitia Olimpiade sudah melayangkan pujian kepada komite penyelenggara Jepang atas persiapan yang sudah mereka lakukan sejauh ini.

John Coates sebagai salah satu panitia Olimpiade saat di Tokyo kemarin setelah memperhatikan persiapan yang dilakukan, sungguh takjub dengan apa yang sudah dicapai sampai hari ini.

Keinginan Jepang untuk menyelenggarakan Olimpiade tanpa cela sedikit pun, memang perlu biaya yang besar. Angkanya mencapai USD 15 miliar, jika dirupiahkan sekitar 210 triliun. Nilai ini dua kali lebih besar dari prediksi awal.

Olimpiade Tokyo 2020 diharapkan mampu menjadi acara Olimpiade dan Paralimpiade yang paling banyak disaksikan oleh penduduk di seluruh dunia, dengan penjualan tiket stadion yang sangat tinggi, ditambah stasiun TV yang sudah mengantre untuk menyiarkan setiap pertandingan di seluruh dunia.

Sekitar tiga juta tiket masuk stadion sudah berhasil habis terjual selama penjualan domestik pertama bulan lalu. Nilai ini melampaui ekspektasi penyelenggara di awal.

Selain itu ada lebih dari 200 ribu masyarakat Jepang dan asing yang mendaftarkan diri untuk menjadi relawan selama event berlangsung. Hal ini mengisyaratkan antusiasme setiap lapisan masyarakat jika dibandingkan dengan Olimpiade sebelumnya yang diselenggarakan di Rio de Janeiro tiga tahun lalu. Saat itu, ada banyak sekali penggunaan dana publik dalam pembiayaan Olimpiade.

Hal menarik lainnya dalam Olimpiade kali ini, termasuk kembalinya olahraga Baseball, Karate, Skateboard, Panjat Tebing dan Selancar.

Kendala persiapan

Beberapa kendala selama persiapan mulai dari turunnya presiden komite penyelenggara, Tsunekazu Takeda karena skandal korupsi dalam lelang proyek.

Dilanjutkan dengan kasus plagiat pada logo sehingga harus di buat ulang oleh panitia penyelenggara.

Ada juga sedikit perhatian terhadap temperatur Tokyo di musim panas tahun depan. Pada Juli 2018 tahun lalu saja ada sekitar selusin orang yang meninggal di Tokyo karena temperatur yang mencapai 30 derajat Celsius untuk pertama kalinya.

Memang di Indonesia angka ini cukup sering kita jumpai, namun ada perbedaan mencolok pada tingkat kelembapan di Indonesia yang cenderung lebih tinggi, sehingga panas tersebut lebih banyak berubah menjadi uap air, sedangkan di Tokyo, panasnya bisa sangat kering.

Tips kami jika Anda ingin menyaksikan Olimpiade Tokyo 2020 di Jepang, persiapkan air minum yang banyak. Dan untuk panitia, ada baiknya membangun lebih banyak pepohonan dan air dalam taman, seperti air mancur dan kolam ikan.

Desain medali Olimpiade Tokyo 2020

Untuk Olimpiade Tokyo 2020, penyelenggara Jepang secara khusus menciptakan medali dari barang-barang elektronik bekas. Hal ini merupakan terobosan terbaru dalam sejarah Olimpiade untuk penggunaan barang berkelanjutan sebagai medali Olimpiade.

Sebanyak 32 kg emas berhasil diambil dari 6,2 miliar telepon genggam bekas yang didonasikan selama dua tahun terakhir oleh masyarakat Jepang.

Selain itu, tim penyelenggara juga berhasil mengambil 3,5 ton perak dan 2,2 ton perunggu untuk membuat 5.000 medal Olimpiade serta Paralimpiade.

Pada Olimpiade Rio 2016 sebelumnya, memang ada penggunaan material daur ulang, namun sangat sedikit volume nya jika dibandingkan dengan Olimpiade Tokyo 2020 kali ini.

Selain medal, ada empat robot yang siap beroperasi dalam setiap stadion, termasuk versi Miraitowa dan Someity sebagai maskot Olimpiade Tokyo 2020.

Dua model lain yang beroperasi di luar akan siap secara otomatis mengambil gambar dan video secara langsung bagi yang berhalangan hadir di stadion. Selain itu, dua jenis robot ini juga diprogram untuk mengambil bola-bola dan juga lembing yang terlempar keluar dari stadion nantinya. Menarik, bukan?